Penikmat film Indonesia dibuat
terpana dengan film bergenre drama romantis yang diproduksi oleh Soraya
Intercine Films dan diadaptasi dari novel mega bestseller karangan Haji Abdul
Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka yang berjudul
"Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck". Film ini disutradarai sekaligus
diproduseri oleh Sunil Suraya dan co produsernya adalah Ram Soraya. Penulis
skenario film ini adalah Donny Dhirgantoro, Imam Tantowi, Riheam Junianti.
Pihak soraya Intercine Films sudah mengincar dan mempersiapkan dengan matang
novel tersebut untuk diangkat menjadi film selama kurang lebih 8 tahun.
Rumah produksi Soraya Intercine
Films mengklaim bahwa film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan film
Indonesia termahal yang menghabiskan belasan miliar rupiah. Hal ini terbukti
dari semua properti yang ada di film begitu detail dan nyata. Proses syuting
film ini dikabarkan hampir memakan waktu hampir 8 bulan lamanya. Proses
pengambilan gambar diambil langsung dari tanah Minangkabau, Jakarta, Bandung,
dan Makassar. Film ini membutuhkan sedikitnya 600 pemain dengan 100 diantaranya
berperawakan bule karena film ini mengambil set di zaman penjajahan belanda
tahun 1930an. Films ini dirilis tanggal 19 Desember 2013 dengan durasi kurang
lebih 2 jam 49 menit.
Pada sekitar tahun 1930, seorang
pemuda bernama Zainuddin (Herjunot Ali) pergi meninggalkan kampungnya menuju
tanah kelahiran ayahnya di Minangkabau untuk menuntut ilmu. Zainuddin berharap
disana ia akan mendapat sambutan yang baik, bisa bergaul dengan masyarakat
setempat dan bisa menimba ilmu dengan tenang. Akan tetapi, harapan Zainuddin
tersebut harus dibuang jauh-jauh karena Zainuddin dianggap orang yang tidak
bersuku. Zainuddin pun sulit bergaul dengan masyarakat setempat. Di
Minangkabau, Zainuddin bertemu dengan Hayati (Pevita Pearce). Mereka saling
berkomunikasi melalui surat. Seiring berjalannya waktu mereka saling jatuh
cinta.
Ternyata masyarakat Minangkabau
tidak suka hubungan mereka sehingga Zainuddin terpaksa harus pergi ke Padang
Panjang untuk melanjutkan pendidikan dan menumpang tempat tinggal di rumah
keluarga Muluk (Randi Nidji). Sebelum meninggalkan Minangkabau, Hayati dan
Zainuddin membuat janji sumpah setia selamanya. Karena Zainuddin tinggal di
Padang Panjang, membuat Hayati ingin ke Padang Panjang untuk menemuinya.
Kesempatan pun terbuka karena teman dekat Hayati yaitu Khadijah (Geysha Sandy)
mengajaknya berlibur di Padang Panjang selama 10 hari untuk melihat Pacuan Kuda
di Padang Panjang.
Sesampainya di Padang Panjang,
Hayati bertemu dengan Aziz (Reza Rahardian) yang merupakan kakak kandung
Khadijah. Keluarga Aziz langsung terpikat dengan kecantikan dan kesederhanaan
Hayati dan meminta Aziz untuk meminang Hayati. Disaat yang sama pula Zainuddin
juga melamar Hayati. Namun keluarga Hayati lebih memilih Aziz yang lebih
terpandang. Hal itu membuat Zainuddin kecewa dan sakit berbulan-bulan. Berkat
semangat dan dorongan Muluk, Zainuddin sembuh dan memutuskan untuk merantau ke
tanah Jawa untuk melupakan kepahitan cintanya dan fokus untuk menulis sastra.
Zainuddin pun mengembangkan bakat menulisnya hingga menjadi penulis terkenal
dan mashyur. Tetapi, Zainuddin kembali bertemu dengan Hayati pada
pertunjukan Operanya di Surabaya.
Semenjak itu, rumah tangga Aziz
dan Hayati berantakan. Aziz pun menjadi miskin karena kalah berjudi dan
memanfaatkan kebaikan Zainuddin dengan menumpang di rumahnya dan meminjam
uangnya. Berbulan-bulan menumpang membuat Aziz malu dan jatuh sakit. kemudian,
Aziz memutuskan untuk mencari kerja dan menitipkan istrinya Hayati kepada
Zainuddin. Aziz pun lama kelamaan meninggal dunia. Hal itu membuat Zainuddin
kacau antara senang atau sedih karena orang yang dicintainya sekarang ada di
depan matanya. Hingga pada akhirnya, Zainuddin menolak Hayati dan menyuruhnya
pulang ke Minangkabau naik Kapal Van Der Wijck. Disaat perjalanan ternyata
kapal tersebut tenggelam. Membaca berita tenggelamnya kapal Van Der Wijck,
Zainuddin terkejut dan langsung menuju rumah sakit. Sayangnya Hayati tidak bisa
diselamatkan. Tenggelamnya kapal tersebut membuat Zainuddin kehilangan cinta
sejatinya selama-lamanya.
Seperti novel Buya Hamka yang
dijadikan film sebelumnya yaitu "Dibawah Lindungan Ka'bah",
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck lebih menonjolkan beberapa tradisi adat minang
seperti peran perempuan dalam masyarakat, hal ini dimunculkan dengan usaha
Hayati menjadi istri yang sempurna biarpun Aziz tidak menghargainya.
Film ini secara matang menyajikan visualisasi yang menakjubkan yaitu pengambilan gambar-gambar dari sudut-sudut yang sesuai. Namun, pada bagian kapal tenggelam masih belum sempurna sehingga terlihat tidak menyerupai aslinya dan juga tidak dijelaskan penyebab Kapal Van Der Wijck tenggelam. Durasi yang lama tetapi tidak terlalu menonjolkan inti atau judul dari film itu sendiri. Para pemain juga mampu membangun karakter masing-masing dengan penuh penghayatan. Soundtrack dari Band terkenal Nidji yang lirik sesuai dengan cerita juga memanjakan telinga penonton.
Film ini secara matang menyajikan visualisasi yang menakjubkan yaitu pengambilan gambar-gambar dari sudut-sudut yang sesuai. Namun, pada bagian kapal tenggelam masih belum sempurna sehingga terlihat tidak menyerupai aslinya dan juga tidak dijelaskan penyebab Kapal Van Der Wijck tenggelam. Durasi yang lama tetapi tidak terlalu menonjolkan inti atau judul dari film itu sendiri. Para pemain juga mampu membangun karakter masing-masing dengan penuh penghayatan. Soundtrack dari Band terkenal Nidji yang lirik sesuai dengan cerita juga memanjakan telinga penonton.
Dari paparan diatas, dapat
disimpulkan bahwa Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan film tentang
persoalan adat yang berlaku di Minangkabau serta latar belakang sosial yang
menghalangi sebuah cinta. Film ini juga menggambarkan indonesia di tahun 1930an.
Film ini memotivasi untuk para generasi sekarang untuk bangkit dari
keterpurukan dan terus berjuang untuk masa depan. Secara keseluruhan Film
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di apresiasikan dengan baik sebagai sebuah
tontonan di atas rata-rata film indonesia.
Diambil dari berbagai sumber. COMMENT YA GUYS

Udah nonton, bagus filmnya
BalasHapustafsirannya mudah dimengerti cuma agak terlalu spoiler aja. selebihnya bagus..
BalasHapusBagus. Penulisan riview dah bagus bahasanya. Terus berlatih menulis ya
BalasHapuskusukaaaaa!! thx for reviewnya juga ya jan-jan
BalasHapusBagus, master janah! hasil ngerapihinnya kelihatan rapi kok. orientasinya bikin jatuh cinta......
BalasHapus