Selasa, 03 Maret 2015

Cinta Berbeda Status Sosial




Penikmat film Indonesia dibuat terpana dengan film bergenre drama romantis yang diproduksi oleh Soraya Intercine Films dan diadaptasi dari novel mega bestseller karangan Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka yang berjudul "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck". Film ini disutradarai sekaligus diproduseri oleh Sunil Suraya dan co produsernya adalah Ram Soraya. Penulis skenario film ini adalah Donny Dhirgantoro, Imam Tantowi, Riheam Junianti. Pihak soraya Intercine Films sudah mengincar dan mempersiapkan dengan matang novel tersebut untuk diangkat menjadi film selama kurang lebih 8 tahun.



Rumah produksi Soraya Intercine Films mengklaim bahwa film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan film Indonesia termahal yang menghabiskan belasan miliar rupiah. Hal ini terbukti dari semua properti yang ada di film begitu detail dan nyata. Proses syuting film ini dikabarkan hampir memakan waktu hampir 8 bulan lamanya. Proses pengambilan gambar diambil langsung dari tanah Minangkabau, Jakarta, Bandung, dan Makassar. Film ini membutuhkan sedikitnya 600 pemain dengan 100 diantaranya berperawakan bule karena film ini mengambil set di zaman penjajahan belanda tahun 1930an. Films ini dirilis tanggal 19 Desember 2013 dengan durasi kurang lebih 2 jam 49 menit.



Pada sekitar tahun 1930, seorang pemuda bernama Zainuddin (Herjunot Ali) pergi meninggalkan kampungnya menuju tanah kelahiran ayahnya di Minangkabau untuk menuntut ilmu. Zainuddin berharap disana ia akan mendapat sambutan yang baik, bisa bergaul dengan masyarakat setempat dan bisa menimba ilmu dengan tenang. Akan tetapi, harapan Zainuddin tersebut harus dibuang jauh-jauh karena Zainuddin dianggap orang yang tidak bersuku. Zainuddin pun sulit bergaul dengan masyarakat setempat. Di Minangkabau, Zainuddin bertemu dengan Hayati (Pevita Pearce). Mereka saling berkomunikasi melalui surat. Seiring berjalannya waktu mereka saling jatuh cinta.



Ternyata masyarakat Minangkabau tidak suka hubungan mereka sehingga Zainuddin terpaksa harus pergi ke Padang Panjang untuk melanjutkan pendidikan dan menumpang tempat tinggal di rumah keluarga Muluk (Randi Nidji). Sebelum meninggalkan Minangkabau, Hayati dan Zainuddin membuat janji sumpah setia selamanya. Karena Zainuddin tinggal di Padang Panjang, membuat Hayati ingin ke Padang Panjang untuk menemuinya. Kesempatan pun terbuka karena teman dekat Hayati yaitu Khadijah (Geysha Sandy) mengajaknya berlibur di Padang Panjang selama 10 hari untuk melihat Pacuan Kuda di Padang Panjang.



Sesampainya di Padang Panjang, Hayati bertemu dengan Aziz (Reza Rahardian) yang merupakan kakak kandung Khadijah. Keluarga Aziz langsung terpikat dengan kecantikan dan kesederhanaan Hayati dan meminta Aziz untuk meminang Hayati. Disaat yang sama pula Zainuddin juga melamar Hayati. Namun keluarga Hayati lebih memilih Aziz yang lebih terpandang. Hal itu membuat Zainuddin kecewa dan sakit berbulan-bulan. Berkat semangat dan dorongan Muluk, Zainuddin sembuh dan memutuskan untuk merantau ke tanah Jawa untuk melupakan kepahitan cintanya dan fokus untuk menulis sastra. Zainuddin pun mengembangkan bakat menulisnya hingga menjadi penulis terkenal dan mashyur. Tetapi, Zainuddin kembali bertemu dengan Hayati pada pertunjukan Operanya di Surabaya. 



Semenjak itu, rumah tangga Aziz dan Hayati berantakan. Aziz pun menjadi miskin karena kalah berjudi dan memanfaatkan kebaikan Zainuddin dengan menumpang di rumahnya dan meminjam uangnya. Berbulan-bulan menumpang membuat Aziz malu dan jatuh sakit. kemudian, Aziz memutuskan untuk mencari kerja dan menitipkan istrinya Hayati kepada Zainuddin. Aziz pun lama kelamaan meninggal dunia. Hal itu membuat Zainuddin kacau antara senang atau sedih karena orang yang dicintainya sekarang ada di depan matanya. Hingga pada akhirnya, Zainuddin menolak Hayati dan menyuruhnya pulang ke Minangkabau naik Kapal Van Der Wijck. Disaat perjalanan ternyata kapal tersebut tenggelam. Membaca berita tenggelamnya kapal Van Der Wijck, Zainuddin terkejut dan langsung menuju rumah sakit. Sayangnya Hayati tidak bisa diselamatkan. Tenggelamnya kapal tersebut membuat Zainuddin kehilangan cinta sejatinya selama-lamanya.



Seperti novel Buya Hamka yang dijadikan film sebelumnya yaitu "Dibawah Lindungan Ka'bah", Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck lebih menonjolkan beberapa tradisi adat minang seperti peran perempuan dalam masyarakat, hal ini dimunculkan dengan usaha Hayati menjadi istri yang sempurna biarpun Aziz tidak menghargainya. 

Film ini secara matang menyajikan visualisasi yang menakjubkan yaitu pengambilan gambar-gambar dari sudut-sudut yang sesuai. Namun, pada bagian kapal tenggelam masih belum sempurna sehingga terlihat tidak menyerupai aslinya dan juga tidak dijelaskan penyebab Kapal Van Der Wijck tenggelam. Durasi yang lama tetapi tidak terlalu menonjolkan inti atau judul dari film itu sendiri. Para pemain juga mampu membangun karakter masing-masing dengan penuh penghayatan. Soundtrack dari Band terkenal Nidji yang lirik sesuai dengan cerita juga memanjakan telinga penonton.



Dari paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan film tentang persoalan adat yang berlaku di Minangkabau serta latar belakang sosial yang menghalangi sebuah cinta. Film ini juga menggambarkan indonesia di tahun 1930an. Film ini memotivasi untuk para generasi sekarang untuk bangkit dari keterpurukan dan terus berjuang untuk masa depan. Secara keseluruhan Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di apresiasikan dengan baik sebagai sebuah tontonan di atas rata-rata film indonesia.




Diambil dari berbagai sumber. COMMENT YA GUYS

5 komentar:

  1. tafsirannya mudah dimengerti cuma agak terlalu spoiler aja. selebihnya bagus..

    BalasHapus
  2. Bagus. Penulisan riview dah bagus bahasanya. Terus berlatih menulis ya

    BalasHapus
  3. kusukaaaaa!! thx for reviewnya juga ya jan-jan

    BalasHapus
  4. Bagus, master janah! hasil ngerapihinnya kelihatan rapi kok. orientasinya bikin jatuh cinta......

    BalasHapus